Liga Champions: PSG Jago di Kandang, Melempem di Tandang

Luis Enrique Milan PSG

PSG INDONESIA MEDIA – Paris Saint Germain memiliki dua wajah di Liga Champions: stabil di kandang, tapi jauh lebih bermasalah saat bermain di luar. Ini tercermin ketika klub bertandang di St. James’ Park hingga San Siro. Pemain Paris menunjukkan kelemahan besar saat bermain di kandang lawan.

Editorial RMC Sport menyebut hal tersebut adalah masalah yang sudah lama mengganggu di Paris. Masalah cukup serius, terutama ketika PSG bermimpi besar untuk menjadi juara Liga Champions.

Paris tampil sangat baik di Parc des Princes, dengan 8 kemenangan dari 10 pertandingan terakhir mereka (1 seri dan 1 kekalahan), namun mereka kerap melempem saat bermain di stadion lawan di Eropa.

Ketidakstabilan PSG dengan dua sisi, di kandang seperti Dr. Jekyll dan di luar seperti Mr. Hyde, terlihat jelas dari statistik.

AC Milan vs PSG
Sebelas awal PSG melawan AC Milan di San Siro, 8 November 2023.

Musim ini, Paris mengalami dua kekalahan saat bermain di laga tandang di antaranya kalah 4-1 di Newcastle dan 2-1 di Milan di penyisihan grup UCL.

Bahkan jika kita melihat musim sebelumnya, PSG mengalami kekalahan beruntun (kalah dari Bayern di babak 16 besar).

Bila melihat lebih jauh lagi, masalah beradaptasi dengan suasana hati yang kurang bersahabat di luar stadion masih menjadi isu.

Ini sudah menjadi masalah selama tiga musim, sejak musim 2021-22, Paris hanya memenangkan dua dari sepuluh pertandingan terakhir mereka di luar kandang UCL (3 seri, 5 kekalahan), melawan Maccabi Haifa dan Juventus Turin.

Hanya AC Milan yang lebih buruk di antara tim-tim Eropa yang sudah bermain lebih dari 10 pertandingan, dengan tingkat keberhasilan hanya 18% (20% untuk PSG).

Baca juga: Waspada PSG Bisa Gagal Lolos dari Fase Grup UCL

Hal ini menunjukkan ketidakstabilan mereka, selama periode ini, para pemain Paris kehilangan minimal 12 poin meskipun mereka unggul dalam pertandingan, dan belum pernah mendapatkan clean sheet.

Paris bahkan belum mencatatkan clean sheet dalam 15 pertandingan terakhir di Liga Champions, yang terakhir kali terjadi lebih dari tiga tahun yang lalu, saat bermain melawan Basaksehir pada 28 Oktober 2020 (0-2) dengan Keylor Navas di bawah mistar sebagai kiper.

Selama rentang waktu ini, para pemain Paris kebobolan rata-rata 1,8 gol per pertandingan. Jika melihat dari kedua statistik ini, ini adalah rekor terburuk Paris SG di Liga Champions selama periode tersebut.

Kegagalan dalam pertahanan ini tentu saja menghambat ambisi Paris di panggung Eropa. Jika PSG ingin meraih kesuksesan di Liga Champions, mereka harus memperbaiki performa mereka di luar kandang.

Selain itu, akan bijak bagi mereka untuk memastikan lolos di Parc des Princes pada pertandingan berikutnya (melawan Newcastle, 29 November), agar PSG tidak perlu menghadapi perjalanan sulit ke Dortmund pada pertandingan terakhir (14 Desember).

Tempat pertama di grup juga akan membantu Paris untuk menghindari pertandingan 16 besar tandang. Paris harus memperbaiki performa mereka di luar kandang jika ingin berhasil di UCL.

Baca juga: UPDATE SKOR: PSG Harus Akui Keunggulan AC Milan di San Siro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *